Wanita keras dan egois

       Cuaca tampak panas begitupun suasana hati, saat lelah melangkah saat dunia begitu menuntut untuk bertahan, kini ku kembalikan pada seorang jingga yang sering kali menyamar menjadi senja. 

Dialok luka yang sering kali menghantuiku kini mulai kambuh tak kenal waktu. Aku wanita keras, sakit dan egois mau bagaimana lagi? 

Semua waktu yang senja punya selalu aku pinta. Semua waktu yang aku punya selalu aku lupakan. Lantas dunia atau aku yang salah?

Bertahan dengan aku, bercerita dengan aku hanya akan kau dapatakan luka. Hanya akan ku berikan duka. Selalu aku sita semua yang kau punya selalu aku pinta semua yang kau suka. Aku, aku lebih baik sendiri di tepian sunagi yang mengalir ini. Biarkan bak pertama hijau juga mengalir di tepian harapakan ku. 

Sering kali aku menepiskan omongan baikmu, sering kali aku meminta untuk tetap aman di sampingmu, tapi mungkin tidak dengan mu. Hanya sebatas meluangkan waktu tapi menerimamu itu adalah harapan kecilku. 

Jika dialog asa yang sering aku katakan kepada mu adalah celmoh yang tak panatas dan hanya membuang waktu saja. Pergilah untuk menuaii tanaman yang telah engkau tanam. Aku manusia asing wanita keras yang menuntut selalu duniaa untuk memihak kepadaku. 

Kamu manusia permata yang lembut akan tutur katanya mungkin tak akan pernah bisa sama dengan aku wanita batu keras yang selalu ingin memecahkan bahtera pegunungan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Child's growth journey

Catatan Baru Di Riuhnya Perjalanan

Terima Kasih Telah Hadir