"Terlatih Tertatih"
Mari kita berbincang:)
Belakangan, waktu luang banyak memberiku ruang untuk bergumul dengan pikiran-pikiran. Kepalaku ramai, meskipun nyatanya hidupku kini justru semakin terasa sepi. Orang-orang kembali sibuk dengan rutinitasnya, sedangkan aku kembali terjebak dengan kegaduhan isi kepala. Aku juga penasaran kenapa baru sekarang pikiran-pikiran itu datang secara bersamaan. Menyusahkan saja, pikirku. Namun sisi baiknya, kurasa Tuhan sedang menguji logikaku untuk mulai berpikir maju.
Beberapa bulan ini realitas terasa begitu cepat berganti, mulai dari perubahan-perubahan kecil dalam rutinitas yang membawaku pada pemahaman-pemahaman baru tentang berbagai proses kehidupan. Sekarang aku sadar, selain mati, hal yang pasti terjadi dalam hidup adalah terjatuh. Semua orang pasti pernah merasa jatuh atau benar-benar terjatuh. Entah jatuh karena tergerus realitas atau tertipu ekspektasi di kepala. Sepertinya hidup memang selalu melatihku untuk belajar terjatuh, walau kenyataannya aku tak pernah benar-benar terlatih untuk cepat sembuh. Barangkali, proses itulah yang menjadi seni dari hidup itu sendiri: kita terjatuh berulang kali dan dipaksa hidup untuk tetap bangkit berkali-kali.
Sekarang aku sadar, selain mati, hal yang pasti terjadi dalam hidup adalah terjatuh. Semua orang pasti pernah merasa jatuh atau benar-benar terjatuh. Entah jatuh karena tergerus realitas atau tertipu ekspektasi di kepala.
Waktu kecil, jatuh yang aku tahu hanya sebatas jatuh dari sepeda, jatuh karena terlalu cepat berlari, atau jatuh karena kurang berhati-hati. Ketika beranjak dewasa, aku tau jatuh tak selalu tentang luka yang tak kasatmata. Aku kemudian dipertemukan dengan jatuh-jatuh yang lainnya; jatuh yang ternyata lebih sulit disembuhkan dari luka yang berdarah. Dulu, tak ada yang mengajariku bagaimana berdamai dengan semua rasa sakit itu. Aku hanya dipaksa bangkit dengan menelan kata-kata motivasi palsu. Katanya, kalau aku belum berhasil, berarti usahaku masih kurang. Katanya, mungkin selama ini aku kurang sungguh-sungguh dalam berjuang. Katanya, mungkin aku memang tak ditakdirkan untuk posisi yang aku inginkan. Dan aku mengamini ucapan-ucapan itu, menjadikannya bahan bakar untuk kembali bangkit, namun dengan sebongkah dendam yang tumbuh dalam benakku. Aku tumbuh menjadi seseorang yang merasa harus membuktikan kesalahan dari kata-kata itu. Aku merasa harus mendapatkan pencapaian lebih agar eksistensiku diakui oleh orang-orang di sekitarku.
Pada akhirnya, aku memang berhasil mendapatkannya. Tapi, jauh dalam diriku, aku selalu merasa hampa. Tidak ada kebahagiaan atau kepuasan yang kudapatkan karena tujuan utamaku hanya sebatas pembuktian. Saat itu, aku merasa ada yang salah. Ternyata bukan hasil yang membuatku benar-benar menghargai apa yang kupunya; melainkan prosesnya. Aku mulai menyadari bahwa ada yang lebih penting selain membuktikan pencapaianku, yaitu proses yang kulalui untuk sampai di titik itu: proses terjatuh, tertatih, dan terlatih untuk bangkit berkali-kali. Sejak saat itu aku tak begitu peduli dengan pencapaian yang ada. Aku hanya berusaha menikmati proses jatuh yang kuhadapi dan menerimanya dengan lapang dada. Karena aku percaya, setiap jatuh mengajarkanku sebuah pelajaran berharga. Mungkin kalimat tadi terdengar seperti kata-kata motivasi palsu, tapi kelak kusadari bahwa memang setiap kegagalan atau keterpurukan selalu membawaku pada sebuah pemahaman baru.
Ada yang lebih penting selain membuktikan pencapaianku, yaitu proses yang kulalui untuk sampai di titik itu: proses terjatuh, tertatih, dan terlatih untuk bangkit berkali-kali.
motivasi- motivasi ekstenal seperti itu justru mengambat kita dan terkadang membuat kita depresi, seperti menyuruh untuk positive thinking. Menyuruh orang berpikir realistis saja, juga tidak memberikan hasil yang baik. karena secara implisit, menyalahkan diri sendiri jika mereka merasa tidak bahagia. Merasa tertatih dalam menghadapi realita itu wajar ketika ada peristiwa negatif yang datang. tergantung respon kita terhdap masalah itu. ada sikap respon namanya pesimis defensif dimana ketika kita memikirkan sesuatu yang tidak sesuai dengan ekspetasi atau tidak sesuai dengan rencana justru mengurangi kekwatiran yang berlebihan.

luvvvv❤️
BalasHapusEaaa, smgattt ya manusia baikk dan kuattt:*
Hapus