Batu karang yang hancur tak selamanya hancur

 Magelang, 4 April 2022


Rasa tak pernah berbeda ketika seseorang merasa ingin sekali menang. Begitupun akuyang selalu menginginkan kemenangan. Saat ini aku hanya duduk diam berada di atasranjang tidur. Balutan udarapun masuk ke dalam pori-poriku. Aku hanya berfikir keras,sekeras-kerasnya. Aku hanya bisa merasakan diriku yang mulai rapuh karena celoteh mereka.

Baiklah! Aku akan membeberkannya.

Hatiku rapuh benar-benar rapuh. Aku hanya ingin fokus untuk satu tempat saja, aku hanya

ingin berjalan di satu tempat saja untuk saat ini. Semuaya hanya bisa membincangkan

diriku, berkata aku takkan berhasil melakukannya. 

Dalam hati aku selalu menanyakan.

Apakah diriku tak disayang tuhan? 

Apakah aku sudah dilupakan oleh tuhan?

 Apakah aku

bisa menggapai semua cita dan anganku? Sebenarnya, apa yang akan terjadi nanti? 

Aku

sudah tak kuasa menatap diriku. Bahkan untuk melihat masa ldepan, aku hanya bisa melihat

dengan satu mata tertutup dan satu mata terbuka sipit. Aku tak kuat, aku rapuh. 

Karena

celotehnya

“apa yang sedang kamu lakukan di dalam? Keluarlah makan malam sudah siap.” Kata ibu

yang berteriak dari dapur untukku.

“baiklah aku akan kesana beberapa menit lagi” ucapku, membalas teriakan ibu.

Tak lama ibu menghampiriku dan mengetok pintu kamarku.

“sebenarnya apa yang sedang kamu lakukan? 

Hampir setiap hari kamu selalu telat makan.

Apa kamu membuat musik lagi? Tak akan berguna, mengertilah kamu itu anak pengusaha

hebat. Kamu harus meneruskan perusahaan ayah kamu. Sudah! Keluarlah ibu nggak mau

tahu, kamu harus bersekolah dengan giat. Lupakan musikmu.” Ujar ibu.

Inilah hidupku, tak ada yang mendukungku sama sekali. Mereka hanya bisa menghela nafas

besar untuk bisa menanganiku. Kini usiaku beranjak 17 tahun dan aku sudah terlambat jauh

untuk belajar musik. Ya! Aku tak memiliki pengalaman bermusik sedikitpun. Namun aku

menyukainya sejak aku kecil. Hanya sebagian mata saja mereka menganggapku itu hanya

keinginan anak kecil saja. Namun bagiku ini adalah keinginan besar, aku ingin menjadi

pemusik hebat. Namun hanya satu kelemahanku yaitu, aku tak pernah bisa memulai

musikku saat orang sekitar mencelotehku.

“apa yang kamu kerjakan?” tanya ibu saat aku menghampiri meja makan.

“hanya menata baju di lemari” jawabku ringan

“baiklah. Ibu kira kamu membuat lagu lagi. Sayang, percayalah, kamu akan mendapatkan

banyak uang jika kamu ikut mengelola perusahaan papa kamu dan gaji kamu juga tetap

nggak seperti bermain musik.”

“iya baiklah. Bu apa ibu benar-benar membenciku jika aku bermain musik? Bagaimana

dengan pengalam waktu kecilku?”

“masa kecil hanya sebuah kenginginan anak-anak. Kamu bahkan tak begitu bagus

mengikutinya. Ibu tak membenci, namun ibu menginginkan kamu memiliki masa depan yang

bagus dengan gaji tetap.”

“mmm… begitu…” aku tak mau meneruskan, aku hanya takut berdosa jika aku melanjutkan

perbincangan ini.

Setelah makan aku masuk lagi ke dalam kamar dan memutar beberapa musik kesukaanku.

Beginilah aku, setiap hari aku hanya menerka bagaimana dengan kehidupanku selanjutnya.

Aku banyak mencari info bagaimana mengatasi ini dan aku tak menemukan satupun yang

cocok denganku.

Aku hanya termenung, terjaga sembari menatap langit-langit kamarku, membuka dan

menutup mata bahkan air mata tiba-tiba keluar dengan sendirinya di ujung mataku. Apa

yang akan aku lakukan setelah ini? Aku lemah, aku seperti orang bodoh yang mencari

lapangan untuk kebodohanku sendiri. Jutaaan hariku kuhabiskan dengan ketakutan besar.

Drrtt…

Aku melirik hp ku. Rasanya malas untuk mengambil hpku meskipun letaknya tak jauh dari

jangkauanku.

Aku melihatnya temanku nesti mengirimkan pesan untukku.


Nesti

Sinta, bagaimana kabarmu? Apa kamu baik-baik saja disekolah barumu? Aku ingin

mendengar ceritamu walau mungkin itu banyak. Ceritakan aku menunggumu… aku juga

akan menceritakan diriku.

Nesti adalah sahabatku dari aku smp dia memiliki kepribadian yang baik dan semangat.

Bahkan saat aku tidak betah di sekolahku sma yang pertama dia menyemangatiku

meskipun dari jauh, hingga aku berpindah sekolah demi kenyamananku.

Sinta

Aku baik-baik saja. Disini lumayan menyenangkan, tidak seperti yang dulu. Meskipun begitu

disini aku tak bisa mengeksplor hobi bermusikku aku terlalu minder.

Nesti

Hmm… sayang banget, menurutku kamu ada basic dalam bermusik meskipun (maaf) kamu

tak terlalu bagus. Tapi kamu ada kekuatan untuk bermusik sinta. Lakukan jangan minder.

Sinta

Lupakan! Bagaimana denganmu? Aku dengar kamu juara olimpiade matematika? Apakah

menyenangkan kehidupan smamu?

Nesti

Iya aku juara 2, menyedihkan ya? Aku saat ini tidak begitu bahagia. Aku kehilangan sahabat

dekatku di sekolah ini, dia pindah ke sekolah olahraga. Dan sekarang aku melakukan

apapun sendirian, bahkan ketika jam olahraga tak ada satupun teman yang mau melatihku agar aku bisa olahraga dengan baik. Kau tahu kan aku tak begitu baik dalam pelajaran

olahraga. Ini menyedihkan, aku berharap kamu ada disini, setidaknya ada yang

menemaniku setiap hari.

Sinta

Hmm…juara 2 yang pentingkan juara, selamat yaa… aku benar ingin sekali satu sekolah

lagi denganmu. Tapi, tidak bisa. Sekarang umurku terlalu tua untuk belajar musik. Aku tidak

bisa berekspresi di rumah bahkan sekolah. So, sekarang aku hanya bisa mempersiapkan

diriku untuk tahun ini. Pasti teman kamu senang karena ada yang mendukungnya.

Nesti

tak ada yang namanya terlambat, kamu bisa. Nyatanya apa yang kamu lakukan selalu

bagus, kamu hanya perlu sedikit sentuhan dan aku yakin kamu akan mengolah sentuhan itu

menjadi indah. Semangatlah! Aku akan menyemangatimu dari sini. Maaf aku tak bisa

berada di dekatmu saat kamu seperti ini. Sebenarnya sahabatku pindah orang tuanya

sebelumnya tidak ada yang mengetahui satupun. Dia pindah ke sekolah olahraga dan mau

mengulang dari kelas satu dengan uang kakaknya, dan sekarang orangtuanya marah besar

padanya. Namun dia tak mempedulikannya, pihak sekolahpun menarikanya kembali.

Sedangkan sekolah olahraga yang sudah dia masuki beberapa hari tak ingin

melepaskannya, meskipun skillnya minim semangatnya cukup besar. Begitulah…

Sinta

berarti dia keluar dari sekolah dan masuk ke sekolah satunya, dia sendiri yang

melakukannya? Sendirian?

Nesti

Iya, orangtuanya tidak pernah mendukungnya. karena kakaknya pernah mengalami patah

tulang di bagian kaki, makanya dia tidak mendapat restu orangtuanya. Namun dia

menemukan hal asik dalam berolahraga, bahkan kakaknya juga mendukungnya.

Sinta

Apa aku perlu nekat? Melakukan diriku untuk masuk ke dunia musik? Sedangkan aku tak

memiliki uang sepeserpun untuk belajar musik, bahkan orangtuaku memperhitungkan pengeluaranku setiap bulan.

Nesti

Bukannya kamu bisa membuat cerpen? Puisi? Kirimkan semua tulisanmu ke aku. Aku akan

memberikannya kepada jurnalistik sekolahku, jika tulisanmu masuk ke dalam majalah

mingguan sekolah dan buletin, kamu akan mendapatkan beberapa uang. Kumpulkan itu.

Aku akan membantumu.

Sinta

Benarkah? Apa benar kau akan melakukannya?

Nesti

Ya! Aku akan membantumu mengedit jika itu masih kurang bagus.


3 bulan kemudian setelah lulus dari sma

Hariku sedikit demi sedikit merasa lega. Hambatan kadang simpang siur. Namun tetap saja

aku tak bisa membuka lebar kedua mataku, aku tak bisa menatap masa depanku dengan

tenang. Untuk bermusikku aku sendiri masih takut mengeksplornya. Bahkan orangtuaku

sendiri tak mengetahui aku yang sekarang mendalami musik di beberapa tempat untuk

belajar musik (les musik).

Aku sudah lulus, jaminanku sekarang adalah kuliah. Namun aku merasa aku masih belum

bisa untuk melakukannya, karena berkali kali orangtuaku menyuruhku untuk belajar bisnis.

Namun tetap saja, aku ingin bicara baik-baik tentang musik di hadapan mereka.

“ayah, ibu. Bolehkah sinta bicara sesuatu?”

“bicara apa? Katakan saja.” Ujar ayahku sembari melipat koran yang sedang dibacanya.

“aku… aku… ingin kuliah di musik. Aku ingin mendalami musik”

“hmm… mulai lagi..” ucap ibu. “sebentar-sebentar, apa alasan kamu ingin belajar musik?

Basic kamu kan bukan di musik tapi di bisnis? Bahkan kamu juga tak pernah

mempelajarinya dari kecil. Mengapa dari awal kamu sma kamu selalu berbicara tentang

musik? Coba jelaskan” sela ayah.

Ibu yang tadinya sedang menyetrika langsung duduk di samping ayah.

“ya. Memang aku tak pernah belajar, bahkan pengalaman bermusikku juga tak bagus sama

sekali. Namun saat ini aku tahu, apa yang kupelajari dari dulu buakan atas kemauanku

sendiri tapi kenginan ibu dan ayah agar aku bisa meneruskan bisnis ayah dan ibu.

Sedangkan sekarang aku ingin membuat jalanku sendiri. Izinkan aku, anggap saja belajar

musikku ini adalah pekerjaan sampinganku nantinya. Untuk bisnis ibu dan ayah aku janji

akan meneruskannya. Dan jika ibu dan ayah tidak mau memberiku uang untuk bersekolah,

tidak apa. Aku akan berusaha mencarinya. Percayalah! Apa yang aku inginkan ini bukan

keinginan buruk seperti kejadian-kejadian sma ku saat berpindah sma.” Paparku di hadapan

ibu dan ayah. Kini ayah dan ibuku terdiam menatapku seolah khawatir mengahadapiku saat

aku berbicara seakan pasrah.

“sebenarnya ibu bukan tidak setuju. Namun ibu khawatir…” ucap ibu.

“hmm… begitupun ayah, ayah benar-benar sangat khawatir. Bagaimana jika kamu tidak bisa

terkenal di dalam musikmu? Bagaimana kamu bisa mendapatkan uang dari musikmu?

Semuanya punya massa dan massa itu akan habis jika sudah tidak ada lagi yang

mendukungmu. Apa yang akan kamu lakukan jika kamu tak bisa tenar?” papar ayah, kini

aku mulai paham kalau ayah dan ibu bukan tidak memperbolehkan aku bermain musik

melainkan mereka khawatir terhadap masa depanku.

“baiklah.. jadi begini. Jika masa ku sudah habis. Aku akan menjadi produser musik, aku

akan menjadi penulis lagu, aku akn menjadi komposer musik. Dan itu tak akan habis… aku

akan menghasilkan uang dari situ. Yang ayah dan ibu fikir adalah, jika aku menjadi artis dan

aku turun daun apa yang aku lakukan? Begitukah? Maaf bukannya sinta inginmemberontak, melainkan sinta ingin ayah dan ibu mengerti apa yang sedang sinta inginkan.”

“apa benar kamu menginginkan itu? Bukan menjadi penyanyi?” ucap ibu.

“ya. Menjadi penyanyi bisa dibilang hanya sampingan, namun untuk produser, penulis,

komposer itu yang utama.”

“hmm… ayah benar-benar salut. Kamu mempunyi keinginan dewasa, lakukanlah. Ayah

akan membantumu untuk mewujudkan itu. Apa ibu setuju?”

“hmm… pasti. Ibu juga akan mendukung. Ibu akan mensuport juga. Ibu kira kamu hanya

menyukai ketenaran, namun ternyata kamu juga menyukai ketenaran dibalik panggung. Ya!

Lakuakan” senyum ibu berimbuh-imbuh.

Aku menatap kedua orangtuaku. Aku selalu menganggap mereka adalah penceloteh

terbesar untuk menurunkan keinginan kuatku. Namun pada kenyataannya, mereka hanya

khawatir. Aku mulai paham, sekarang aku sepertinya tumbuh sedikit lebih dewasa.

3 tahun kemudian

Aku menyukai hidupku, meskipun aku sering menangis ketika tugas kuliah mulai

menghantam. Aku tertawa hingga lupa jika aku sedih aku tak bisa mengingat bahwa aku

juga pernah bahagia. Saat ini adalah tempatku. 1 tahun yang lalu beberapa produser

mengenalku, beberapa bulan kemudian aku mulai dikenal dengan musikku, hingga kini aku

meraih semuanya. Saat ini bukan aku dengan musikku yang terkenal melainkan diriku saja

sudah banyak yang mengenalku. Ayah dan ibuku selalu berada di sampingku bahkan ketika

aku terjatuh hingga bangkit.

Kedewasaanku mulai tumbuh. Saat ini aku mulai berfikir jernih. Aku paham sebenarnya aku

bisa menggapai ini dari dulu, namun aku terlalu takut mempijaknya. Aku takut untuk

menatapnya, bahkan sampai saat ini aku hidup rasa khawatirku terhadap masa depanku

masih ada. Namun bedanya aku mulai bisa membuka kedua mataku meski ada

kekhawatiran di dalamnya.

Untuk kalian…

Jangan takut menghadapi apapun. Katakanlah keinginanmu, namun pastikan dulu apa itu

keinginan kuatmu atau hanya sebatas cucuran keinginan kecilmu. Hidup ini fleksibel jika

kalian bisa fleksibel juga. Hanya bertahan dan tersenyum, karena di dunia ini tak pernah ada

yang tidak membantumu. Bertahan, kuat, dan berdo’a. Kunci itu akan membawamu masuk

ke lorong yang kamu inginkan dengan baik. Kuat dan yakin! Jangan kau lupakan.

Terimakasih dan sampai jumpa

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Child's growth journey

Catatan Baru Di Riuhnya Perjalanan

Terima Kasih Telah Hadir